Burnout Tim IT Akibat Proyek Website, Apa Dampaknya?
Waktu Baca: 9 minutes

Proyek website perusahaan selesai. Bisa diakses, desainnya sudah oke, dan klien mengangguk puas.
Tapi tiga bulan setelah go-live, dua developer terbaik mengajukan resign. Lead programmer makin sering absen. Kualitas kode di proyek berikutnya menurun drastis. Bug yang mestinya mudah ditangkap malah lolos ke production.
Banyak manajer bertanya-tanya ada apa?
Jawabannya sering tersembunyi di tengah proses proyek itu sendir yaitu Burnout. Kelelahan kronis yang dialami tim IT selama mengerjakan website dan baru terasa dampaknya setelah proyek selesai.
Ini bukan fenomena langka. Laporan State of Developer Experience 2024 dari Harness mencatat bahwa burnout menjadi alasan utama developer keluar dari pekerjaan, dengan 52% responden menyebut kelelahan kronis sebagai faktor utama pergantian staf di tim mereka. Biayanya tidak kecil: secara global, burnout developer menelan kerugian perusahaan hingga US$300 miliar per tahun.
Untuk bisnis yang sedang membangun atau merevamp website, memahami burnout bukan soal kepekaan sosial semata. Ini soal manajemen risiko proyek yang serius.



